ANDA SEORANG SISWA PERAWAT?PRAKTISI RUMAH SAKIT, KLINIK, PUSKESMAS?DOSEN? ANDA MEMBUTUHKAN BUKU-BUKU PENUNJANG SKILL DAN KNOWLEDGE ANDA?

Tuesday, November 4, 2008

PERAWATAN KOLOSTOMI

Pengertian


  • Sebuah lubang buatan yang dibuat oleh dokter ahli bedah pada dinding abdomen untuk mengeluarkan feses (M. Bouwhuizen, 1991)

  • Pembuatan lubang sementara atau permanen dari usus besar melalui dinding perut untuk mengeluarkan feses (Randy, 1987)

  • Lubang yang dibuat melalui dinding abdomen ke dalam kolon iliaka untuk mengeluarkan feses (Evelyn, 1991, Pearce, 1993)



Jenis – jenis kolostomi
Kolostomi dibuat berdasarkan indikasi dan tujuan tertentu, sehingga jenisnya ada beberapa macam tergantung dari kebutuhan pasien. Kolostomi dapat dibuat secara permanen maupun sementara.

  • Kolostomi Permanen

  • Pembuatan kolostomi permanen biasanya dilakukan apabila pasien sudah tidak memungkinkan untuk defekasi secara normal karena adanya keganasan, perlengketan, atau pengangkatan kolon sigmoid atau rectum sehingga tidak memungkinkan feses melalui anus. Kolostomi permanen biasanya berupa kolostomi single barrel ( dengan satu ujung lubang)


  • Kolostomi temporer/ sementara

  • Pembuatan kolostomi biasanya untuk tujuan dekompresi kolon atau untuk mengalirkan feses sementara dan kemudian kolon akan dikembalikan seperti semula dan abdomen ditutup kembali. Kolostomi temporer ini mempunyai dua ujung lubang yang dikeluarkan melalui abdomen yang disebut kolostomi double barrel.

Lubang kolostomi yang muncul dipermukaan abdomen berupa mukosa kemerahan yang disebut STOMA. Pada minggu pertama post kolostomi biasanya masih terjadi pembengkakan sehingga stoma tampak membesar.
Pasien dengan pemasangan kolostomi biasanya disertai dengan tindakan laparotomi (pembukaan dinding abdomen). Luka laparotomi sangat beresiko mengalami infeksi karena letaknya bersebelahan dengan lubang stoma yang kemungkinan banyak mengeluarkan feses yang dapat mengkontaminasi luka laparotomi, perawat harus selalu memonitor kondisi luka dan segera merawat luka dan mengganti balutan jika balutan terkontaminasi feses.
Perawat harus segera mengganti kantong kolostomi jika kantong kolostomi telah terisi feses atau jika kontong kolostomi bocor dan feses cair mengotori abdomen. Perawat juga harus mempertahankan kulit pasien disekitar stoma tetap kering, hal ini penting untuk menghindari terjadinya iritasi pada kulit dan untuk kenyamanan pasien.
Kulit sekitar stoma yang mengalami iritasi harus segera diberi zink salep atau konsultasi pada dokter ahli jika pasien alergi terhadap perekat kantong kolostomi. Pada pasien yang alergi tersebut mungkin perlu dipikirkan untuk memodifikasi kantong kolostomi agar kulit pasien tidak teriritasi.

Pendidikan pada pasien
Pasien dengan pemasangan kolostomi perlu berbagai penjelasan baik sebelum maupun setelah operasi, terutama tentang perawatan kolostomi bagi pasien yang harus menggunakan kolostomi permanen.
Berbagai hal yang harus diajarkan pada pasien adalah:

  • Teknik penggantian/ pemasangan kantong kolostomi yang baik dan benar

  • Teknik perawatan stoma dan kulit sekitar stoma

  • Waktu penggantian kantong kolostomi

  • Teknik irigasi kolostomi dan manfaatnya bagi pasien

  • Jadwal makan atau pola makan yang harus dilakukan untuk menyesuaikan

  • Pengeluaran feses agar tidak mengganggu aktifitas pasien

  • Berbagai jenis makanan bergizi yang harus dikonsumsi

  • Berbagai aktifitas yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh pasien

  • Berbagi hal/ keluhan yang harus dilaporkan segera pada dokter ( jika apsien sudah dirawat dirumah)

  • Berobat/ control ke dokter secara teratur

  • Makanan yang tinggi serat


Komplikasi kolostomi

1.Obstruksi/ penyumbatan
Penyumbatan dapat disebabkan oleh adanya perlengketan usus atau adanya pengerasan feses yang sulit dikeluarkan. Untuk menghindari terjadinya sumbatan, pasien perlu dilakukan irigasi kolostomi secara teratur. Pada pasien dengan kolostomi permanen tindakan irigasi ini perlu diajarkan agar pasien dapat melakukannya sendiri di kamar mandi.
2.Infeksi
Kontaminasi feses merupakan factor yang paling sering menjadi penyebab terjadinya infeksi pada luka sekitar stoma. Oleh karena itu pemantauan yang terus menerus sangat diperlukan dan tindakan segera mengganti balutan luka dan mengganti kantong kolstomi sangat bermakna untuk mencegah infeksi.
3.Retraksi stoma/ mengkerut
Stoma mengalami pengikatan karena kantong kolostomi yang terlalu sempit dan juga karena adanya jaringan scar yang terbentuk disekitar stoma yang mengalami pengkerutan.
4.Prolaps pada stoma
Terjadi karena kelemahan otot abdomen atau karena fiksasi struktur penyokong stoma yang kurang adekuat pada saat pembedahan.
5.Stenosis
Penyempitan dari lumen stoma
6.Perdarahan stoma

Perawatan kolostomi
Pengertian
Membersihkan stoma kolostomi, kulit sekitar stoma , dan mengganti kantong kolostomi secara berkala sesuai kebutuhan.

Tujuan

  • Menjaga kebersihan pasien

  • Mencegah terjadinya infeksi

  • Mencegah iritasi kulit sekitar stoma

  • Mempertahankan kenyamanan pasien dan lingkungannya


Persiapan pasien

  • Memberi penjelasan pada pasien tentang tujuan tindakan, dll

  • Mengatur posisi tidur pasien (supinasi)

  • Mengatur tempat tidur pasien dan lingkungan pasien (menutup gorden jendela, pintu, memasang penyekat tempat tidur (k/P), mempersilahkan keluarga untuk menunggu di luar kecuali jika diperlukan untuk belajar merawat kolostomi pasien


PERSIAPAN ALAT

  1. Colostomy bag atau cincin tumit, bantalan kapas, kain berlubang, dan kain persegi empat

  2. Kapas sublimate/kapas basah, NaCl

  3. Kapas kering atau tissue

  4. 1 pasang sarung tangan bersih

  5. Kantong untuk balutan kotor

  6. Baju ruangan / celemek

  7. Bethadine (bila perlu) bila mengalami iritasi

  8. Zink salep

  9. Perlak dan alasnya

  10. Plester dan gunting

  11. Bila perlu obat desinfektan

  12. bengkok

  13. Set ganti balut


PERSIAPAN KLIEN

  1. Memberitahu klien

  2. Menyiapkan lingkungan klien

  3. Mengatur posisi tidur klien


PROSEDUR KERJA

  1. Cuci tangan

  2. Gunakan sarung tangan

  3. Letakkan perlak dan alasnya di bagian kanan atau kiri pasien sesuai letak stoma

  4. Meletakkan bengkok di atas perlak dan didekatkan ke tubuh pasien

  5. Mengobservasi produk stoma (warna, konsistensi, dll)

  6. Membuka kantong kolostomi secara hati-hati dengan menggunakan pinset dan tangan kiri menekan kulit pasien

  7. Meletakan colostomy bag kotor dalam bengkok

  8. Melakukan observasi terhadap kulit dan stoma

  9. Membersihkan colostomy dan kulit disekitar colostomy dengan kapas sublimat / kapas hangat (air hangat)/ NaCl

  10. Mengeringkan kulit sekitar colostomy dengan sangat hati-hati menggunakan kassa steril

  11. Memberikan zink salep (tipis-tipis) jika terdapat iritasi pada kulit sekitar stoma

  12. Menyesuaikan lubang colostomy dengan stoma colostomy

  13. Menempelkan kantong kolostomi dengan posisi vertical/horizontal/miring sesuai kebutuhan pasien

  14. Memasukkan stoma melalui lubang kantong kolostomi

  15. Merekatkan/memasang kolostomy bag dengan tepat tanpa udara didalamnya

  16. Merapikan klien dan lingkungannya

  17. Membereskan alat-alat dan membuang kotoran

  18. Melepas sarung tangan

  19. Mencuci tangan

  20. Membuat laporan


Read More......

Monday, July 14, 2008

JENIS-JENIS CAIRAN INFUS

ASERING
Indikasi:
Dehidrasi (syok hipovolemik dan asidosis) pada kondisi: gastroenteritis akut, demam berdarah dengue (DHF), luka bakar, syok hemoragik, dehidrasi berat, trauma.
Komposisi:
Setiap liter asering mengandung:


  • Na 130 mEq

  • K 4 mEq

  • Cl 109 mEq

  • Ca 3 mEq

  • Asetat (garam) 28 mEq


Keunggulan:

  • Asetat dimetabolisme di otot, dan masih dapat ditolelir pada pasien yang mengalami gangguan hati

  • Pada pemberian sebelum operasi sesar, RA mengatasi asidosis laktat lebih baik dibanding RL pada neonatus

  • Pada kasus bedah, asetat dapat mempertahankan suhu tubuh sentral pada anestesi dengan isofluran

  • Mempunyai efek vasodilator

  • Pada kasus stroke akut, penambahan MgSO4 20 % sebanyak 10 ml pada 1000 ml RA, dapat meningkatkan tonisitas larutan infus sehingga memperkecil risiko memperburuk edema serebral



KA-EN 1B
Indikasi:

  • Sebagai larutan awal bila status elektrolit pasien belum diketahui, misal pada kasus emergensi (dehidrasi karena asupan oral tidak memadai, demam)

  • < 24 jam pasca operasi

  • Dosis lazim 500-1000 ml untuk sekali pemberian secara IV. Kecepatan sebaiknya 300-500 ml/jam (dewasa) dan 50-100 ml/jam pada anak-anak

  • Bayi prematur atau bayi baru lahir, sebaiknya tidak diberikan lebih dari 100 ml/jam


KA-EN 3A & KA-EN 3B
Indikasi:

  • Larutan rumatan nasional untuk memenuhi kebutuhan harian air dan elektrolit dengan kandungan kalium cukup untuk mengganti ekskresi harian, pada keadaan asupan oral terbatas

  • Rumatan untuk kasus pasca operasi (> 24-48 jam)

  • Mensuplai kalium sebesar 10 mEq/L untuk KA-EN 3A

  • Mensuplai kalium sebesar 20 mEq/L untuk KA-EN 3B


KA-EN MG3
Indikasi :

  • Larutan rumatan nasional untuk memenuhi kebutuhan harian air dan elektrolit dengan kandungan kalium cukup untuk mengganti ekskresi harian, pada keadaan asupan oral terbatas

  • Rumatan untuk kasus pasca operasi (> 24-48 jam)

  • Mensuplai kalium 20 mEq/L

  • Rumatan untuk kasus dimana suplemen NPC dibutuhkan 400 kcal/L


KA-EN 4A
Indikasi :

  • Merupakan larutan infus rumatan untuk bayi dan anak

  • Tanpa kandungan kalium, sehingga dapat diberikan pada pasien dengan berbagai kadar konsentrasi kalium serum normal

  • Tepat digunakan untuk dehidrasi hipertonik


Komposisi (per 1000 ml):

  • Na 30 mEq/L

  • K 0 mEq/L

  • Cl 20 mEq/L

  • Laktat 10 mEq/L

  • Glukosa 40 gr/L


KA-EN 4B
Indikasi:

  • Merupakan larutan infus rumatan untuk bayi dan anak usia kurang 3 tahun

  • Mensuplai 8 mEq/L kalium pada pasien sehingga meminimalkan risiko hipokalemia

  • Tepat digunakan untuk dehidrasi hipertonik


Komposisi:

  • Na 30 mEq/L

  • K 8 mEq/L

  • Cl 28 mEq/L

  • Laktat 10 mEq/L

  • Glukosa 37,5 gr/L


Otsu-NS
Indikasi:

  • Untuk resusitasi

  • Kehilangan Na > Cl, misal diare

  • Sindrom yang berkaitan dengan kehilangan natrium (asidosis diabetikum, insufisiensi adrenokortikal, luka bakar)


Otsu-RL
Indikasi:

  • Resusitasi

  • Suplai ion bikarbonat

  • Asidosis metabolik


MARTOS-10
Indikasi:

  • Suplai air dan karbohidrat secara parenteral pada penderita diabetik

  • Keadaan kritis lain yang membutuhkan nutrisi eksogen seperti tumor, infeksi berat, stres berat dan defisiensi protein

  • Dosis: 0,3 gr/kg BB/jam

  • Mengandung 400 kcal/L


AMIPAREN
Indikasi:

  • Stres metabolik berat

  • Luka bakar

  • Infeksi berat

  • Kwasiokor

  • Pasca operasi

  • Total Parenteral Nutrition

  • Dosis dewasa 100 ml selama 60 menit


AMINOVEL-600
Indikasi:

  • Nutrisi tambahan pada gangguan saluran GI

  • Penderita GI yang dipuasakan

  • Kebutuhan metabolik yang meningkat (misal luka bakar, trauma dan pasca operasi)

  • Stres metabolik sedang

  • Dosis dewasa 500 ml selama 4-6 jam (20-30 tpm)


PAN-AMIN G
Indikasi:

  • Suplai asam amino pada hiponatremia dan stres metabolik ringan

  • Nitrisi dini pasca operasi

  • Tifoid


Read More......

Wednesday, June 25, 2008

KEGEL'S EXERCISES

Pengertian

Suatu bentuk latihan otot pelvis pada wanita yang bermanfaat memperkuat otot-otot pelvis dan mengurangi terjadinya inkontinensia.
Tujuan


  1. Memperkuat otot-otot panggul

  2. Mencegah terjadinya inkontinensia stress akibat adanya kelemahan pelvis dan tekanan intraabdomen yang tinggi

  3. Mencegah berulangnya episode inkontinensia




Prosedur Pelaksanaan

  • Instruksikan klien duduk atau berdiri dengan kaki direnggangkan

  • Instruksikan klien untuk mengontraksikan rektum, uretra dan vagina ke arah atas dalam, dan tahan selama 5 detik. Kontraksi seharusnya dirasakan pada pinggul

  • Pada tahap awal, instruksikan klien untuk melakukan kontraksi 5 atau 6 kali. Setelah otot semakin kuat, tingkatkan frekuensinya sampai 25 atau lebih setiap waktu. Tujuan akhirnya, yaitu 200 latihan perhari tetapi tidak harus dilakukan pada satu waktu

  • Kembangkan jadwal yang dapat mengingatkan klien untuk melakukan latihan, misalnya saat di kendaraan, berangkat kerja atau saat di dapur.
  • Instruksikan klien untuk mencoba memulai dan menghentikan aliran urine


Read More......

Monday, June 23, 2008

ANATOMI FISIOLOGI SISTEM ENDOKRIN

Suatu sore ketika saya sedang bersiap-siap untuk mengakhiri semua pekerjaan, seorang pengajar dari luar masuk ke kantor, ia baru saja memfasilitasi mahasiswa semester 4 yang berjumlah 76 orang mempelajari Mekanisme Persalinan Normal dalam mata kuliah Maternitas. Sang pengajar mengeluh sambil menghenyakan pantatnya di sofa. Bu, masa dari sekian puluh anak, saat saya review tak satu pun memahami hormon-hormon yang bertanggung jawab dalam proses reproduksi. Saya tanya mengenai aktin dan miosin saja, semua bungkam. Saya yang sudah berdiri akhirnya duduk kembali, dengan perasaan malu tentunya. Seorang dosen senior mengeluhkan evaluasi belajar yang tidak menggembirakan, tentu saja membakar rasa percaya dosen muda seperti saya.

Sejenak saya berpikir, masa dari sekian puluh anak semuanya tak memahami, itu membuktikan proses pembelajaran sebelumnya tidak berhasil. Lalu apa penyebabnya?Faktor mahasiswa atau dosennya?

Namun saat ini, saya rasa belum tepat jika membahas faktor-faktor tadi. Saya tertarik untuk membuka kembali sistem endokrin dan memahaminya untuk yang kesekian kali. Untuk itu, mari kita tengok bersama, sesusah apa sih sistem endokrin yang membakar harga diriku itu?



SISTEM ENDOKRIN

Kelenjar endokrin merupakan kelenjar yang tidak mempunyai saluran, yang menyalurkan sekresi hormonnya langsung ke dalam darah. Hormon tersebut memberikan efeknya ke organ atau jaringan target. Beberapa hormon seperti insulin dan tiroksin mempunyai banyak organ target. Hormon lain seperti kalsitonin dan beberapa hormon kelenjar hipofisis, hanya memiliki satu atau beberapa organ target.


Susunan Kimia Hormon


  1. Amina: hormon sederhana ini merupakan variasi susunan asam amino tirosin. Kelompok ini meliputi tiroksin dari kelenjar tiroid, epinefrin dan norepinefrin dari medula adrenal

  2. Protein: hormon ini merupakan rantai asam amino.Insulin dari pankreas, hormon pertumbuhan dari kelenjar hipofisis anterior, kalsitonin dari kelenjar tiroid semuanya merupakan protein.Rantai pendek asam amino disebut peptida. Hormon antidiuretik dan oksitosin yang disintesis oleh hipotalamus, merupakan hormon peptida.

  3. Steroid: kolesterol merupakan prekursor hormon steroid, yang meliputi kortisol dan aldosteron dari korteks adrenal, estrogen dan progesteron dari ovarium, dan testosteron dari testis.


Pengaturan Sekresi Hormon
Perubahan kadar hormon dalam darah

Informasi penting untuk meningkatkan/ menurunkan sekresi hormon

Dibawah ini merupakan contoh pengaturan sekresi hormon:


Kadar Glukosa meningkat/ hiperglikemia



Merangsang sekresi insulin



Insulin disekresikan dan beredar dalam darah



Keadaan ini membuat sel mampu mengeluarkan glukosa dalam darah yang digunakan untuk produksi energi dan memampukan hati menyimpan glukosa sebagai glikogen



Glukosa darah menurun



Membalikkan rangsangan untuk menghentikan sekresi insulin


Pembahasan endokrin akan dilanjutkan pada posting berikutnya.

Read More......

Friday, June 20, 2008

RUMUS PERHITUNGAN DARAH UNTUK TRANSFUSI

Rumus : Hb normal – Hb pasien = hasil
hasil x BB x jenis darah
Keterangan :
Hb normal = Hb yang diharapkan atau Hb normal
Hb pasien = Hb pasien saat ini
Hasil = hasil pengurangan Hb normal dan Hb pasien
Jenis darah = darah yang dibutuhkan
= PRC dikalikan 3
= WB dikalikan 6





Read More......